Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Mei 2018

Minggu, 22 April 2018

Nilai-Nilai dalam Cerpen



Cerpen atau cerita pendek merupakan salah satu karya sastra yang memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi. Berbagai karakter tokoh yang ditampilkan pada cerpen dapat berupa protagonis ataupun antagonis. Berdasarkan tokoh-tokoh tersebut kita dapat menemukan nilai-nilai kehidupan, yaitu perbuatan baik yang harus ditiru dan perbuatan buruk yang harus dijauhi.

Nilai adalah sesuatu yang penting, berguna, atau bermanfaat bagi manusia. Dengan demikian, nilai-nilai kehidupan dalam cerpen adalah sesuatu yang bermanfaat yang terdapat pada cerpen yang dapat direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-Nilai Kehidupan dalam Cerpen

Nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah karya sastra, antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut.

1.   Nilai moral, yaitu nilai yang berkaitan dengan akhlak/budi pekerti/susila atau kepada baik buruk tingkah laku.

Contoh:
Setelah pagi-pagi hari, maka berkatalah Si Miskin kepada istrinya, “Ya, tuanku, matilah rasku ini, sangatlah sakit rasanya tubuh ini. Maka tiadalah berdaya lagi; hancurlah rasanya anggotaku ini.” Maka ia pun terseduh-sedulah  menangis,  maka  terlalu  belas  rasa  hati isterinya  melihat  laku
suaminya. Demikian itu; maka ia pun menangis pula seraya mengambil daun kayu, lalu dimamahnya, maka disapukannyalah seluruh tubuh suaminya, sambil ia berkata, “Diamlah tuan jangan menangis!” sudahlah dengan untung kita, maka jadi selaku ini!”

Pada cuplikan cerita tersebut ingin disampaikan bahwa seorang istri sudah selayaknya menemaninya istrinya baik dalam suka maupun duka. Seorang istri harus dapat merasakan kepedihan suaminya. Makna ini termasuk ke dalam nilai moral juga nilai budaya, karena sudah menjadi adat istri harus setia pada suaminya.

2.   Nilai sosial/kemasyarakatan, yaitu nilai yang berkaitan dengan norma yang berada di dalam masyarakat.

Contoh :
Namun dari sebelah kiriku bertiup bau keringat melalui udara yang dialirkan dengan kipas koran. Dari belakang terus-menerus mengepul asap rokok dari mulut seorang lelaki setengah mengantuk.

Pada cuplikan tersebut ingin disampaikan rasa peduli akan lingkungan sekitarnya. Berarti lelaki tersebut tidak memiliki rasa sosial yang baik. Sikapnya juga dapat mengandung nilai moral dan nilai etika. Namun, jika dicermati cerita tersebut menitikberatkan pada nilai sosial.

3.   Nilai pendidikan/edukasi, yaitu nilai yang berkaitan dengan pengubahan tingkah laku dari baik ke buruk  (pengajaran).

Contoh :
Jakarta terkurung dalam kutukan karena kejahatan kemanusiaan yang didewakannya selama lebih dari tiga dasawarsa menjelang akhir abad keduapuluh. Ingatan kolektif penduduknya bisa lenyap. Tetapi, zaman tak pernah akan lupa bahwa pada waktu itu ratusan ribu orang dibunuh seperti tikus comberan. Anak-anak muda yang ganteng dan manis-manis,
yang bercita-cita sangat sederhana, hanya sekedar untuk bisa meludah karena tak tahan mencium bau amis para penguasa yang durjana, diculik dan dilenyapkan rezim bersenjata.

Pada cuplikan ini tergambarkan sindiran terhadap penguasa dan ini mengandung nilai pendidikan.

4.   Nilai budaya, yaitu nilai yang berkaitan dengan adat istiadat.

Contoh :
Lalu Marakarma kembali ke Negeri Puspa Sari dan ibunya menjadi pemungut kayu.  Lalu  ia  memohon  kepada  dewa  untuk mengembalikan keadaan Puspa Sari. Puspa Sari pun makmur mengakibatkan Maharaja Indra Dewa dengki dan menyerang Puspa Sari. Kemudian Marakrama menjadi Sultan Mercu Negara.

Pada cuplikan tersebut bermakna seorang anak harus berbakti kepada orang tua. Ini mengandung nilai budaya.

5. Nilai estetis/keindahan, yaitu nilai yang berkaitan dengan hal-hal yang menarik/menyenangkan (rasa seni).

Contoh
Lebaran. Tanah boleh basah. Udara boleh lembap. Angin menyelusup di sela-sela daun gugur.  Awan kelabu. Matahari sembunyi di baliknya. Hujan tiba-tiba rajin membasahi bumi. Kota menjadi basah. Terus-menerus basah. Juga jalan-jalan dan halaman rumah. Orang-orang bergegas menghindarinya. Genteng-genteng coklat di perumahan yang tumbuh merapat, berubah warna menjadi lebih tua dari biasanya

Pada cuplikan tersebut tergambar suasana latar, ini mengandung nilai estestis.

6.   Nilai etika, yaitu nilai yang berkaitan dengan sopan santun dalam kehidupan.

Contoh :
Namun dari sebelah kiriku bertiup bau keringat melalui udara yang dialirkan dengan kipas koran. Dari belakang terus-menerus mengepul asap rokok dari mulut seorang lelaki setengah mengantuk.

Pada cuplikan cerpen ini jelas tergambar bahwa lelaki itu tak memiliki sopan santun dan ini mengandung nilai etika.

7.   Nilai politis, yaitu nilai yang berkaitan dengan pemerintahan.

Contoh
Puspa Sari pun makmur mengakibatkan Maharaja Indra Dewa dengki dan menyerang Puspa Sari. Kemudian Marakrama menjadi Sultan Mercu Negara.
Cuplikan ini bermakna siapa yang berbuat jahat, ia akan kalah. Dalam hal ini adalah Maharaja Indra Dewa menyerang Puspa Sari. Ini berarti mengandung nilai politik.

8.   Nilai religius/keagamaan, yaitu nilai yang berkaitan dengan tuntutan beragama.

Contoh:
Raja Ikan Todak telah memenuhi janjinya membangun pulau untuk Datu Mabrur. Di karang pertapaannya dia memanjatkan puji dan syukur kepada
Sang Pencipta. Pulau itu dinamakan Pulau Halimun yang sekarang dikenal dengan nama Pulau Laut.

Menulis Cerpen



Cerpen adalah bagian dari sebuah karya seni yang mengandung unsur keindahan dan mengandung kesan mendalam bagi hati pembacanya. Menulis cerpen bukanlah sekadar menyampaikan informasi yang hasilnya pun hanya sederet informasi dan informasi.

Modal utama untuk menulis cerpen adalah membaca karya sastra apa saja sebanyak-banyaknya, karena membaca adalah bagian dari proses kepenulisan itu sendiri. Mustahil  seseorang mampu menciptakan sebuah karya tanpa terlebih dahulu berkenalan dengan karya-karya lain.

Cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif yang cenderung padat dan langsung pada tujuannya. Walaupun  demikian, cerpen merupakan satu kesatuan bentuk yang utuh dan lengkap. Cerpen melukiskan suatu peristiwa/kejadian apa saja yang terkait dengan persoalan kehidupan manusia. Biasanya cerpen mengangkat persoalan kehidupan manusia pada umumnya (orang dewasa sampai dengan anak-anak).
  
Ciri-Ciri Cerpen:

                                                                                                                                   

a.     Umumnya singkat, pendek, padat, berarti, karena hanya membicarakan masalah yang tunggal atau sarinya saja (lebih pendek daripada novel)

b.      Tulisan kurang dari 10.000 kata

c.    Sumber ceritanya kehidupan sehari-hari baik pengalaman sendiri maupun orang lain,  khayalan atau fakta

d.     Tidak melukiskan seluruh  kehidupan pelakunya karena hanya mengangkat masalah tunggal atau inti sarinya saja.

e.      Habis dibaca sekali duduk

f.       Yang dibahas dalam cerpen hanya yang berarti

g.      Tokohnya mengalami konflik sampai penyelesaiannya

h.      Penggunaan kata-katanya ekonomis dan mudah dikenal masyarakat

i.        Sanggup meninggalkan satu efek atau kesan bagi pembacanya

j.    Menceritakan satu kejadian dari awal sampai perkembangan jiwa, krisis pelaku, tetapi tidak sampai mengalami perubahan nasib

k.      Alurnya tunggal dan lurus

l.        Penggunaan perwatakannya singkat, sederhana, padat, dan  hangat





Unsur Cerpen


a.       Alur

Plot atau alur cerpen atau jalinan cerita adalah bagaimana cerita diceritakan. Alur merupakan peristiwa urutan kejadian atau peristiwa dalam sebuah cerita.

Plot sering dikupas menjadi elemen-elemen berikut:

1.      Pengenalan

2.      Timbulnya konflik

3.      Konflik memuncak

4.      Klimaks

5.      Pemecahan soal /antiklimaks

6.      Penyelesaian



b.      Penokohan

Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam ceritanya. Untuk mengungkapkan watak tokoh-tokoh tersebut pengarang dapat menggunakan teknik sebagai berikut:
      a.      Teknik analitik menggambarkan watak tokoh dengan membeberkannya secara langsung
b.   Teknik dramatik menggambarkan watak tokoh dengan menjalinnya dalam pengungkapan  cerita. Teknik dramatik ini dapat tampil dalam bentuk sebagai berikut:

1.      penggambaran fisik  tokoh sehingga menimbulkan kesan watak tertentu

2.      pengungkapan pikiran-pikiran tokoh

3.      pengungkapan pikiran pelaku  lain terhadap sang tokoh

4.      ragam bahasa dan  isi ujaran sang tokoh

5.      percakapan pelaku-pelaku lain mengenai sang tokoh

6.      penggambaran keadaan di sekitar sang tokoh

7.      pengungkapan semua perbuatan sang tokoh



c.       Latar/ setting

Latar atau setting mencakup tiga hal, yaitu sebagai berikut:

1.      Setting Tempat

Setting tempat mengacu pada tempat di mana peristiwa itu terjadi. Apakah di halaman rumah, di ruang makan, di kota, di daerah, dan lain sebagainya

2.      Setting Waktu

Setting waktu menunjuk pada kapan peristiwa tersebut terjadi. Apakah zaman dahulu, masa kini, pagi, siang, sore, atau  malam  hari

3.      Setting Suasana

Setting suasana mengacu pada kondisi atau suasana saat peristiwa tersebut terjadi. Setting suasana dibedakan menjadi dua, yaitu suasana lahir dan suasana batin. Suasana lahir berkaitan dengan  keadaan atau kondisi lingkungan, seperti: sepi, romantis, hiruk-pikuk, dan lain sebagainya sedangkan suasana batin berkaitan dengan perasaan pelaku, seperti: bahagia, sedih, tegang, cemas, gundah, marah, benci, dan lain sebagainya



d.      Sudut pandang pengarang

Sudut pandang (point of view) adalah bagaimana cara pengarang menempatkan atau memperlakukan dirinya dalam cerita yang ditulisnya.

Sudut pandang ini dapat dibedakan menjadi dua pola utama, yakni 1) pola orang pertama dan 2) pola orang ketiga.



e.       Gaya pengarang

Gaya pengarang adalah ciri khas pengarang dalam menyampaikan alur ceritanya. Biasanya gaya pengarang ini dipengaruhi  oleh lingkungan, sosial-ekonomi, pendidikan, psikologis, dan lain-lain. Gaya pengarang ini berkaitan erat dengan gaya bahasa yang digunakan pengarang. Gaya bahasa adalah cara bagaimana pengarang menguraikan cerita yang dibuatnya atau bagaimana pengarang mengungkapkan isi pemikiranya melalui bahasa-bahasa  yang khas dalam uraian cerita sehingga dapat menimbulkan kesan tertentu.

Gaya bahasa dikenal juga dengan istilah majas.


Topik Cerpen


Khusus topik cerpen, pemilihannya perlu memperhatikan hal berikut:

a.       Harus ada manfaatnya atau layak untuk dibahas

b.      Cukup menarik, baik bagi diri sendiri maupun orang lain

c.       Kita kuasai dengan baik

d.      Bahan cukup memadai, mungkin diperoleh , dan cukup terbatas

e.       Hangat dan menimbulkan rasa ingin tahu

f.       Menimbulkan kesan mendalam

g.      Dirumuskan dalam kalimat, frase, atau kata yang tepat

h.      Sesuai dengan tema dan isi karangan

i.        Singkat, padat, jelas tetapi menimbulkan imajinasi



Kerangka Cerpen


1.      Abstrak
Bagian abstrak merupakan ringkasan atau inti cerita. Abstrak pada sebuah teks cerita pendek bersifat opsional. Artinya sebuah teks cerpen bisa saja tidak melalui tahapan ini.


2.      Orientasi

Tahapan orientasi merupakan struktur yang berisi pengenalan latar cerita berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerpen. Latar digunakan pengarang untuk menghidupkan cerita dan meyakinkan pembaca. Dengan kata lain, latar merupakan sarana pengekspresian watak, baik secara fisik maupun psikis.
 
3.      Komplikasi

Komplikasi berisi urutan kejadian. Peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Pada tahapan struktur ini, karakter atau watak pelaku akan ditemukan oleh pembaca. Dalam komplikasi itulah berbagai kerumitan bermunculan. Kerumitan tersebut bisa saja terdiri lebih dari satu konfik. Berbagai konflik ini pada akhirnya akan mengarah pada klimaks, yaitu saat sebuah konflik mencapai tingkat intensitas tertinggi. Klimaks ini merupakan keadaan yang mempertemukan berbagai konflik dan menentukan bagaimana konflik tersebut diselesaikan dalam sebuah cerita.


4.      Evaluasi

Bagian ini merupakan tahap selesaian atau leraian dari konflik. Konflik yang terjadi diarahkan pada pemecahannya sehingga mulai tampak penyelesaiannya.


5.      Resolusi

Tahap ini adalah tahap pengarang mengungkapkan solusi dari berbagai konflik yang dialami tokoh. Resolusi ini berkaitan dengan koda.


6.      Koda

Koda ada yang menyebut nama lainnya reorientasi. Koda merupakan nilai-nilai atau pelajaran yang dapat dipetik oleh pembaca dari sebuah teks. Sama halnya dengan tahapan abstrak, koda ini bersifat opsional.



Tips mengubah sebuah kisah nyata menjadi cerpen.


1.      Carilah bagian dari kisah nyata itu yang kita anggap menarik. Bagian yang kurang menarik, atau tidak menarik sama sekali, lupakan saja.

2.      Galilah bagian yang menarik tersebut, lalu kembangkan ceritanya sesuai keinginan kita.

3.      Kalau perlu, carilah sudut pandang yang unik, agar ceritanya menjadi lebih bagus.
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html